A Way to Share Ideas 

Bentuk-Bentuk Miskonsepsi pada Siswa SMP


Mis/Pra konsepsi atau yang disebut juga dengan istilah konsep alternative biasanya terjadi pada beberapa siswa yang mencoba untuk menggabungkan pengalaman masa lalu untuk menjawab permasalahan/pernyataan yang diberikan oleh guru. Pada mata pelajaran IPA sendiri khususnya pada pokok pembahasan fisika beberapa bentuk mis/pra konsepsi yang terjadi adalah sebagai berikut:

  • miskonsepsi pada percobaan gerak harmonik sederhana dimana sebagian siswa menganggap bahwa untuk menghitung frekwensi atau perioda dimulai dari simpangan terjauh (Amplitudo). Pemikiran ini muncul dari pemahaman atau penjelasan sebelumnya yang menyatakan bahwa satu getaran dihitung mulai dari titik terjauh (Amplitudo) dan kembali ke titik terjauh lagi. Perhatikan gambar berikut!

Siswa pada saat pengantar materi/pendahuluan diberitahu bahwa untuk satu ayunan sempurna bandul bergerak dari A ke B ke C ke B dan kembali ke A lagi, sehingga pada saat melaksanakan percobaan siswa menghitung satu ayunan mulai dari A-B-C-B-A tanpa memperhitungkan bahwa setiap kali ayunan terjadi pengurangan simpangan yang disebabkan oleh gaya grafitasi yang mempengaruhi massa benda/bandul. Beberapa siswa mulai berfikir bahwa pada kenyataannya bandul tidak pernah mencapai simpangan terajauh sebelumnya. Seharusnya siswa menghitung satu getaran dari posisi B-C-B-A-B dengan A sebagai simpangan terjauhnya, maka pemikiran mengenai bandul tidak mencapai simpangan terjauh (Amplitudo) lagi sudah terjawab.

  • Miskonsepsi selanjutnya terjadi pada pembahasan mengenai gerak parabola dimana peserta didik sering mengalami miskonsepsi pada saat menyelesaikan permasalahan pada titik puncak. Sebagian besar peserta didik hanya menganalisis gerak pada titik puncak dari segi gerak vertikal dimana pada gerak vertikal yang telah diterima oleh siswa sebelumnya menyatakan bahwa pada titik puncak benda tidak memiliki kecepatan. Kebanyakan dari mereka lupa bahwa pada gerak parabola selain gerak secara vertikal yang merupakan GLBB juga terdapat gerak secara horizontal yang merupakan GLB. Artinya pada tiitik puncak benda memiliki kecepatan juga akan tetapi hanya secara horizontal saja.

miskonsepsi lainnya yang sering terjadi pada siswa adalah pada pembacaan baterai  khususnya handphone. Pada baterai hp sering tertulis 1950 mAh atau 2000 mAh. Sebagian besar siswa ataupun masyarakat pada umumnya menyatakan bahwa angka tersebut merupakan angka yang menunjukkan nilai dari kapasitas baterai tersebut. Perlu diluruskan bahwa pemahaman seperti ini sebenarnya kurang tepat karena apabila kita tinjau dari persamaan awal tentang arus yakni i=Q/t dimana satuan i sebagai besaran arus adalah ampere (A), Q sebagai besaran muatan dengan satuan Columb (C) dan t sebagai besaran waktu dengan satuan secon. Jika persamaan diatas kita turunkan maka akan menghasilkan persamaan Q=i.tdengan satuan amperesecon. Satuan yang dihasilkan setara dengan satuan yang tertulis pada baterai yaitu miliAmpere hour, dengan miliAmpere merupakan satuan dari arus dan hour merupakan satuan dari waktu. Artinya tulisan/angka yang tertera pada baterai hp bukanlah kapasitas dari baterai hp akan tetapi muatan yang terkandung didalam baterai tersebut.

  • miskonsepsi lainnya yang terjadi pada siswa adalah pada penerapan tuas seperti pada cangkul. Banyak diantara siswa menganggap bahwa untuk mencangkul dengan mudah maka tangkai cangkul harus dipegang didekat mata cangkul. Anggapan siswa tersebut apabila dianalisis menggunakan prinsip torsi ternyata kurang tepat dimana pada torsi agar mengurangi tenaga yang digunakan kita harus memperpanjang tuas/lengan. Apabila kita memegang cangkul didekat mata cangkul berarti kita mempersempit area kerja dan lengan antara gaya dan titik tumpu, maka seharusnya untuk memudahkan pekerjaan mencangkul maka cangkul harus dipegang pada ujung cangkul yang berfungsi sebagai titik tumpu dan gaya dari tangan lainnya agak ketengah untuk memperluas lengan gaya. Perhatikan gambar berikut!
  • miskonsepsi yang juga terjadi pada siswa adalah pada saat penggambaran gaya berat dan gaya normal. Beberapa siswa menggambarkan gaya berat dan gaya normal secara berkelanjutan padahal terdapat perbedaan antara keduanya. Gaya berat sendiri terpusat pada titik pusat massa benda sedangkan untuk gaya normal berpusat pada bidang sentuh antara benda dan alas. Sebagai perbandingan antara bentuk miskonsepsi dan konsep yang sebenarnya terdapat pada gambar berikut.

Have any Question or Comment?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *