Psikologi Perkembangan

Tulisan ini kami buat ketika mengikuti perkuliahan mengenai psikologi peserta didik. Pertama kami ingin menyampaikan bahwa ini bukan fokus kajian utama kami. Oleh karena itu, tulisan ini kami harapkan untuk dijadikan bahan pembuka diskusi saja. Kami sangat berharap mendapat respon dan masukan dari para pengunjung terkait tulisan ini. Meskipun demikian, tulisan ini kami susun sedemikian rupa, sebagaimana kami memahami referensi-referensi yang juga kami tuliskan di bagian akhir naskah. Terimakasih

PERKEMBANGAN PADA MASA KANAK-KANAK

A. Ciri-ciri awal masa kanak-kanak

  1. Sebutan yang digunakan orang tua.

Sebagian besar orang tua menganggap awal masa kanak-kanak sebagai usia yang mengandung masalah atau usia sulit. Masa bayi sering membawa masalah bagi orang tua dan umumnya berkisar pada masalah perawatan fisik bayi. Dengan datangnya masa kanak-kanak  ,sering terjadinya masalah perilaku yang mengulitkan dari pada masalah perawatan fisik masa bayi.Alasan mengapa masalah perilaku lebih sering terjadi diawal masa kanak-kanak ialah karna anak-anak muda sedang dalam proses pengembangan kepribadian yang unik dan menuntut kebebasan dan pada umumnya kurang berhasil. Anak yang lebih mudas ering kali bandel, keras kepala, tidak menurut, negativistis dan melawan. Sering kali marah tanpa alasan. Pada malam hari terganggu oleh mimpi buruk dan siang hari ada rasa takut yang tidak rasional, dan merasa cemburu. Karena berbagai masalah tersebut, maka bagi orang tua pada umumnya masa kanak-kanak merupakan masa yang kurang menarik dibandingkan masa bayi. Ketergantungan bayi sangat mengundang kasih saying para orang tua dan kakak-kakanya, sekarang berubah anak tidak mau ditolong dan selalu menolak ungkapan kasih sayang mereka. Sering kali orang tua menganggap masa awal kanak-kanak sebagai usia mainan karena anak muda menghabiskan sebagian besar waktu juga bermain dengan mainannya.

2. Sebutan yang digunakan pendidik.

Para pendidik menyebut tahun-tahun awal masa kanak-kanak sebagai usia prasekolah untuk membedakannya dari saat dimana anak dianggap cukup siap, baik secara fisik dan mental, untuk menghadapi tugas-tugas pada saat mereka mulai mengikuti pendidikan formal.  Anak yang mengikuti taman indria atau taman kanak-kanak juga dinamakan anak-anak prasekolah dan bukan anak-anak sekolah. Dirumah, dipusat-pusat perawatan, taman indria atau taman kanak-kanak, tekanan dan harapan yang dikenakan pada anak-anak sangat berbeda dengan apa yang dialaminya pada saat mulai pendidikan formal dikelas satu. Awal masa kanak-kanak, baik dirumah maupun dilingkungan pra-sekolah, merupakan masa persiapan.


3. Sebutan yang digunakan para ahli psikologi

Para ahli psikologi menggunakan sejumlah sebutan yang berbeda untuk menguraikan ciri-ciri yang menonjol dari perkembangan psikologi anak selama tahun-tahun awal masa kanak-kanak. Salah satu sebutan yang banyak digunakan adalah usia kelompok, masa dimana anak-anak mempelajari dasar-dasar perilaku social sebagai persiapan bagi kehidupan  social yang lebih tinggi yang diperlukan untuk penyesuaian diri pada waktu mereka masuk kelas satu. Karena perkembangan utama yang terjadi selama awal masa kanak-kanak berkisar diseputar penguasaan dan pengendalian lingkungan, banyak ahli psikologi melabelkan awal masa kanak-kanak sebagai usia menjelajah, Sebuah label yang menunjukan bahwaa nak-anak ingin mengetahui keadaan lingkungannya, bagaimana mekanismenya, bagaimana perasaannya, dan bagaimana ia dapat menjadi bagian dari lingkungan. Ini termasuk manusia dan juga benda mati. Salah satu cara yang umum dalam menjelajahi lingkungan adalah dengan bertanya. Jadi periode ini sering disebut usia bertanya.Yang paling menonjol dalam periode ini adalah meniru pembicaraan dan tindakan orang lain. Oleh karena itu , periode ini juga dikenal sebagai usia meniru . Namun meskipun kecendrungan ini tampak kuat tetapi anak lebih menunjukan kreatifitas dalam bermain selama masa kanak-kanak dibandingkan dengan masa-masa lain dalam kehidupannya. Dengan alas an ini ahli psikologi juga menamakan peride ini dengan periode kreatif [1].

B.     Perkembangan Fisik

Selama masa kanak-kanak awal, pertumbuhan fisik berlangsung lambat dibandingkan dengan tingkat pertumbuhan selama masa bayi. Perumbuhan fisik yang lambat ini berlangsung mulai munculnya tanda-tanda pubertas, yakniira-kira 2 tahun menjelang anak matang secara seksual dan pertumbuhan fisik kembali berkembang pesat. Meskipun selama masa kanak-kanak pertumbuhan fisik mengalami perlambatan, namun keterampilan-keterampilan motorik halus justru berkembang pesat.

  1. Tinggi dan Berat

Selama masa kanak-kanak awal, tinggi rata-rata anak  bertumbuh 2,5 inci dan berat  bertambah antara 2,5 hingga 3,5 kg setiap tahunnnya. Pada usia 3 tahun, tinggi anak sekitar 38 inci dan beratnya sekitar 16,5 kg. Pada usia 5 tahun, tinggi anak mencapai 43,6 inci dan beratnya 21,5 kg. Ketika anak usia prasekolah bertumbuh makin besar, persentase pertumbuhan dalam tinggi dan berat berkurang setiap tahun. Selama masa ini, baik laki-laki maupun perempuan telihat makin langsing, sementara tubuh mereka semakin panjang.

2. Perkembangan Otak

Di anatara perkembangan fisik yang sangat penting selama masa kana-kanak ialah perkembangan otak dan sistem saraf yang berkelanjutan. Meskipun otak terus bertumbuh pada masa awal kanak-kanak, namun pertumbuhannya tidak sepesat pada masa bayi. Pada saat bayi mencapai usia 2 tahun, ukuran otaknya rat-rata 75 % dari otak dewasa, pada usia 5 tahun, ukuran otaknya telah mencapai sekitar 90 % otak orang dewasa.Pertumbuhan otak selama awal masa kanak-kanak disebabkan oleh pertambahan jumalah dan ukuran urat saraf yang berujung didalam dan diantara daerah-daerah otak.Ujung-ujung urat saraf itu terus bertumbuh seidak-tidaknya hingga masa remaja. Beberapa pertambahan ukuran otak juga disebabkan oleh pertumbuhan myelination, yaitu suatu proses dimana sel-sel urat saraf ditutup dan disekat dengan suatu lapisan sel-sel lemak. Proses ini berdampak terhadap peningkatan kecepatan informasi yang berjalan melalui sistem urat saraf. Beberapa ahli psikologi perkembangan percaya bahwa myelination adalah penting dalam pematangan sejumlah kemampuan anak.

3. Perkembangan Motorik

Perkembangan fisik pada masa kanak-kanak ditandai dengan berkembangnya keterampilan motorik, baik kasar maupun halus.. sekitar usia 3 tahun, anak sudah dapat berjalan dengan baik, dan sekitar usia 4 tahun anak hampir menguasai cara berjalan orang dewasa. Usia 5 tahun anak sudah terampil menggunakan kakinya untuk berjalan dengan berbagai cara, seperti maju dan mundur, jalan cepat dan pelan-pelan, melompat dan berjingkak, berlari kesana-kemari, memanjat dan sebagainya yang semuanya dilakukan dengan lebih halus dan bervariasi. Anak usia 5 tahun juga dapat melakukan tindakan-tindakan tertentu secara akurat, seperti menyeimbangkan badan diatas satu kai, menagkap bola dengan baik, melukis, menggunting, melipat kertas, dan sebagainya [2].

C.   Perkembangan Berbicara

Sebagian besar ketidakberdayaan bayi yang baru lahir berasal dari ketidakmampuan mereka untuk menyatakan kebutuhan dan keinginan mereka dalam bentuk yang dapat dipahami orang lain dan ketidakmampuan mereka memahami kata dan isyarat yang digunakan orang lain.Kemampuan berbicara memenuhi kebutuhan penting lainnya dalam kehidupan anak, yakni kebutuhan untuk menjadi bagian dari kelompok sosial [3].

  1. Arti “Bicara”

Banyak orang yang mempertukarkan penggunaan istilah “bicara” (speech) dengan “bahasa” (languange), meskipun kedua istilah tersebut sebearnya tidak sama. Bahasa mencakup setiap sarana komunikasi dengan menyimbolkan pikiran dan perasaan untuk menyampaikan makna kepada orang lain. Termasuk didalamnya perbedaan bentuk komunikasi yang luas seperti : tulisan, bicara, bahasa simbol, ekspresi muka, isyarat, pantonim, dan seni.Bicara adalah bentuk bahasa yang menggunakan artikulasi atau kata-kata yang digunakan untuk menyampaikan maksud. Karena bicara merupakan bentuk komunikasi yang paling efektif, penggunaannya paling luas dan paling penting. Jakobson menunjukkan bahwa,” semua manusia yang otaknya waras berbicara, namun hampir setengah penduduk dunia adalah tunaaksara total, dan penggunaan bacaan dan tulisan sesungguhnya merupakan kekayaan sebagian kecil saja [4]. Seringkali sulit diketahui kapan sebenarnya bicara dimulai.

2. Bicara: Alat Berkomunikasi

Komunikasi berarti suatu pertukaran pikiran dan perasaan. Pertukaran tersebut dapat dilaksanakan dengan setiap bentuk bahasa seperti : isyarat, ungkapan emosional, bicara atau bahasa tulisan, tetapi komunikasi yang paling umum dan paling efektif dilakukan dengan bicara.Selama tahun-tahun awal masa kanak-kanak, tidak semua bicara digunakan untuk berkomunikasi. Pada waktu sedang bermain, anak seringkali berbucara dengan dirinya sendiri atau dengan mainannya. Meskipun demikian, pada saat minat untuk menjadi bbagian dari kelompok sosial berkembang, mereka sebagian besar bicara untuk berkomunikasi dengan yang lain dan hanya sewaktu-waktu berbicara terhadap diri mereka dan terhadap ainan mereka [5].

3. Esensi komunikasi

Jika komunikasi yang dimaksudkan untuk memenuhi fungsi pertukaran pikiran dan perasaan, maka terdapat dua unsur penting:

  • Anak harus menggunakan bentuk bahsa yang bermakna bagi orang yang mereka ajak berkomunikasi. Sebagai contoh, jika mereka menggunakan isyarat, seperti menunjuk suatu benda yang ingin dilihat orang lain, maka hal itu harus dilakukan dalam bentuk yang dapat dipahami [6].
  • Dalam berkomunikasi anak harus memahami bahsa yang digunakan orang lain. Mereka harus tahu bahwa pada waktu seorang menunujk suatu benda berarti mereka diharapkan melihat benda tersebut. Apabila berkomunikasi dalam bentu bicara, maka mereka harus mengerti apa yang dikatakan keoada mereka dalam bahsa tersebut. Contoh,  seoarang ayah yang mengatakan kepada anaknya “ letakkan camgkir diatas meja” hal itu harus disertai dengan isyarat telunjuk kearah meja dan cangkir, supaya anak mengerti apa yang diminta untuk melakukannya [7].

4. Peran Bicara dalam Komunikasi

Dari banyak cara yang menunjukkan bahwa bicara memainkan peran penting dalam kehidupan anak, yang paling penting diantaranya :

  • Pemusatan hubungan dan keinginan
  • Perhatian dari orang lain
  • Hubungan sosial
  • Penilaian sosial
  • Penilaian diri
  • Prestasi akademik
  • Pengaruhnya terhadap pikiran dan perasaan orang lain
  • Pengaruhnya terhadap perilaku orang lain.

5. Bentuk Komunikasi Prabicara

Selama tahun pertama dan tengah tahun kedua pascalahir, sebelum anak memplajari kata-kata yang cukup untuk digunakan sebagai bentuk komunikasi, mereka menggunakan empat bentuk komunikasi prabicara ( prespeech) yakni tangisan yaitu bunyi yang meledak yang segera berkembang menjadi celoteh, isyarat dan exspresi emosional.

a. Tangisan

Di hari-hari awal kehidupan pascalahir, sebagian besar suara bunyi adalah menangis. Seperti yang dijelaskan Ostwald dan Pletzman bahwa “ menangis merupakan salah satu cara pertama yang dapat dilkukan bayi untuk berkomunikasi dengan dunia luas” [8]. Contoh, rasa pedih diungkapkan dengan tangisan melengking, keras, diselingi dengan rintihan dan rengekan. Sedangkan tangis karena lapar terdengar keras dan diselingi dengan gerakan menghisap. Meskipun gerakan bayi dapat mebantu menafsirkan arti tangis, arti tesebut tidak selalu ditafsirkan dengan benar.

  • Variasi TangisanBanyak sedikitnya tangisan bayi berbeda-beda menurut cepat dan memadainya pemenuhan kebutuhan dan keinginan mereka. Jika dipenuhi dengan segera, bayi kemudian hanya akan menangis karena merasa sakit dan tertekan. Reaksi soaial terhadap tangisan mempengaruhi jumlah tangis bayi. Contoh, bagaimana orang tua dan saudara kandung bereaksi terhadpa tangis bayi, sebagian bergantung pada umur bayi dan sebagian lagi bergantunng pada kepercyaan mereka dalam memandang fungsi tangis.
  • Menurunnya TangisanSelama dua minggu pertama kehidupan tangisan terjadi dalam jarak waktu yang tidak tetap. Karena alasan yang tidak jelas, seringkali bayi mulai banyak menangis, bahkan kadang-kadang juga pada waktu tidur. Secara normal pada minggu ketiga, tamgis bayi mulai berkurang, dan pada waktu bayi berumur tiga sampai empat bulan, tangis dan bangun malam mlai menurun, tetapi tangis disiang hari masih sering terjadi. Akan tetapi, bayi yang sehat dan normal menurun tangisnya pada waktu berumur 6 bulan karena keinginan dan kebutuhan mereka cukup cepat terpenuhi [9]

a. Ocehan dan Celoteh

Ocehan, bunyi eksplosif awal disebabkan oleh perubahan gerakan mekanisme suara. Bunyi itu sendiri sebagian besar bergantung pada bentuk lubang mulut dan caranya memodifikasikan alur udara yang dikeluarkan dari paru-paru melewati pita suara. Karena tidak berarti bagi bayi dan tidak digunakan sebagai bentuk komunikasi, ocehan dapat dipandang sebagai kegiatan bermain yang menyenangkan bayi. Celoteh, dalam menamakan celoteh sebagai “bermain bicara” memberi kesan bahwa celoteh tidak mengandung nilai lain kecuali kesenangan langsung yang ditimbulkannya. Celoteh mengandung nilai jangka panjang karena tiga alasan:

  • Berceloteh adalah praktek verbal yang meletakkan dasar bagi perkembangan gerakan terlatih yang dikehendaki dalam berbicara [10].
  • Celoteh mendorong keinginan berkomunikasi dengan orang lain [11].
  • Berceloteh membantu bayi merasakan bahwa ia adalah bagian dari kelompok sosial [12].

b. Isyarat

Yakni gerakan anggota badan yang berfungsi sebagai pengganti atau pelengkap bicara.  Sebagai pengganti bicara, isyarat menggantikan kata yaitu gagasan yang disampaikan kepada orang lain melalui gerakan badan atau bagian tubuh tertentu. Isyarat menekankan makna kata yang diucapkan. Tidak seperti berceloteh, yang pada dasarnya adalah bentuk permainan, isyarat memiliki tujuan komunikksi yang serius, seperti halnya tangisan [13].


   c. Ungkapan Emotional

Ungkapan emosi melalui perubahan tubuh dan roan wajah. Emosi yang senang disertai dengan suara senang seperti dalam bentuk ocehan, bunyi tertawa kecil, dan tertawa, sedangkan emosi yang tidak senang disertai dengan tangisan dan rengekan.Misalnya, pada waktu bayi merasa gembira, mereka mengendurkan badan, melambaikan tangan dan kaki dan tampak senyum diwajahnya. Rasa marah diungkapkan dengan menegangakn badan, gerakan membantingkan kaki dan tangan, menunujukkan roman muka tegang dan menangis [14].


     d. Metode Belajar  Berbicara

Belajar berbicara adalah suatu keterampilan dan seperti halnya semua keterampilan, berbicara dapat dipelajari dengan metode yang berbeda. Hasil yang ter baik adalah dengan metoe pelatihan (training). Karena bicara adalah  keterampilan mental motorik, disamping mempelajari cara mengucapkan kata-kata, anak-anak juga harus belajar mengaitkan arti dengan kata-kata tersbut.


     e. Hal-Hal Penting Dalam Berbicara

Ada enam hal penting dalam belajar berbicara, yaitu:

  • Persiapan fisik untuk berbicara
  • Kesiapan mental untuk berbicara
  • Model yang baik untuk ditiru
  • Kesempatan untuk berpraktek
  • Motivasi
  • BimbinganJika salah satu dari hal-hal penting tersebut hilang, maka saat belajar bicara akan terlamabat dan kualitas bicara akan berada di bawah potensi anak dan di bawah tingkat kemampuan teman sebayanya [15].

    f. Tugas Utama dalam Berbicara

Belajar berbicara mencakup tiga proses terpisah tetapi saling berhbungan satu sama lain, yakni belajar mengucap kata, membangun kosa kata, dan membentuk kalimat.

  1. Pengucapan, Tugas utama dalam berbicara dalah belajar mengucapkan kata. Pengucapan (pronunciation) dipelajari dengan meniru. Keseluruhan pola pengucapan anka akan berubah dengan cepat jika anak ditempatkan dalm lingkungan baru yang orang-orang dilingkungan tersebut mengucapkan kata-kata yang berbeda. Sebagian orang tua dan pendidik berpendapat bahw aawal masa kanak-kanak adalah saat yang tepat untuk mulai mempelajari bahasa asing.
  2. Pengembangan Kosa Kata, Anak mempelajari dua jenis kosa kata yakni osa kata umum dan kosa kata khusus. Kosa kata umum terdiri atas kata yang dapat digunakan dalam berbagai situasi yang berbeda seperti, manusia, baik, dan pergi. Sebaliknya, kosa kata khusus terdiri atas kata dengan arti spesifik dapay digunakan dalam situasi tertentu.Perbedaan individual dalam ukuran kosa kata pada setiap tingkat usia adalah karena perbedaan kecerdasan, pengaruh lingkungan, kesempatan belajar dan motivasi belajar [16].
  3. Pembentukan Kalimat, Yaitu menggabungkan kata kedalam kalimat yang tata bahasanya betul dan dapat dipahami orang lain analisi kalimat yang diucapkan anak dibawah usia 8 tahun mengungkapkan bahwa anak mulai menggunakan kalimat agak lengakap sejaln dengan bertambah lengkapnya tata bahasanya, sekalipun secara functional tidak. Salah satu kalimat yang paling umum digunakan anak adalah kalimat bertanya [17].

    g. Kondisi yang Menimbulkan Perbedaan dalam Belajar Berbicara

Beberapa kondisi dibawah iniyang menimbulkan perbedaan dalam belajar berbicara adalah:

  • Kesehatan
  • Kecerdasan
  • Keadaan sosial ekonomi
  • Jenis kelamin
  • Keinginan berkomunikasi
  • Dorongan
  • Ukuran keluarga
  • Urutan kelahiran
  • Metode pelatihan anak
  • Kelahiran kembar
  • Hubungan dengan teman sebaya
  • Kepribadian

    h. Perbedaa invidual dalam Banyaknya Bicara

Banyaknya bicara anak dipengaruhi oleh sejumlah faktor, salah satu yang paling penting diantaranya adalah kebutuhan mereka untuk bicara sebagai imbangan bagi kebutuhan lain yang tidak terpenuhi dalam kehidupan  mereka.Dalam kelurga yang menggunakan pendekatan otoriter terhadap anak dan yang menerima keyakinan tradisional bahwa “ anak seharusnya dilihat bukan didengar “, anak kurang belajar berbicara ketimbang dalam keluarga yang menggunakan disiplin “ serba boleh” atau “ demokratis”Anak dari keluarga besar umumnya kurang belajar berbicara ketimbang anak dari keluarga kecil, sebagian karena dalam  keluarga besar biasanya diterapkan pendekatan yang otoriter, dan sebagian lagi karena adanya kekangan jumlah pembicraan setiap anggota keluarga untuk menghindarkan kebisingan..Faktor penting yang menentukan berapa banyaknya anak berbicara adalah kemampuan intelektualanya [18].


D.   Perkembangan Emosi

Karena  emosi memainkan peran yang sedemikian penting dalam kehidupan maka penting diketahui bagaimana perkembangan dan pengaruh emosi terhadap penyesuaian pribadi dan sosial , sukar mempelajari emosi anank-anak karena  informasi tentang aspek  emosi yang subyektif hanya dapat diperoleh dengan cara intropeksi , sedangkan anak-anak tidak dapat menggunakan cara tersebut  dengan baik karena merek masih berusaha sedemikian rupa.  Sulit untuk mempelajari reaksi emosi melalui pengamatan terhadap ekspresi yang jelas tampak terutama ekspresi wajah dan tindakan yang berkaitan dengan berbagai emosi  karena anak-anak suka menyesuaikan diri dengan tututan sosial, contohnya  mereka belajar bagaimana  cara mengendalikan ekspresi prasaan takut , marah, cemburu atau bahkan kesedihan yang nyata apabila mereka mengetahui bahwa ekspresi emosi dapat menimbulkan penilaian yang sosial yang tidak menyenangkan terhadap mereka. Manfaat atau pun kerugian yang ditimbulkan nya  bagi penyesuaian pribadi dan sosial anak dapat bersifat fisik atau psikologis atau bahkan keduanya.

Mengingat pentingnya peran emosi dalam kehidupan anak, tidaklah mengherankan kalau sebagian  keyakinan tradisional tentang emosi yang telah berkembang selama ini bertahan kukuh tanpa informasi yang tepat untuk menunjang ataupun menentangnya. Sebelum bukti ilmiah dapat diperoleh, keyakinan tradisional ini tampaknya tidak hanya berakar kuat tetapi juga mempengaruhi cara orang tua dan orang dewasa lainnya yang mempunyai peran pengganti dalam bereaksi terhadap emosi anak

  1. Pola Perkembangan Emosi

       Kemampuan untuk bereaksi secara emosional sudah ada pada bayi yang baru lahir, gejala pertama prilaku emosional ialah keteransangan umu m terhadap stimulasi yang kuat. Seringkali sebelum lewatnya keteransangan umum pada bayi yang baru lahir dapat dibedakan menjadi reaksi yang sederhana yang menesan kan tentang kesenangan dan ketidaksenangan.

  • Variasi Dalam Pola Perkembangan Emosi

          Variasi emosi yang  sebagian di sebabkan oleh keadaan fisikanak pada saat itu dan taraf kemampuan intelektualnya dan sebagian lagi di sebabkan oleh lingkungan, sekalipun emosi itu berupa kegembiraan atau emosi yang menyenangkan lain nya karena itu anak-anak selalu mengekang sebagian ekspresi emosi mereka  cendrung bertahan lebih lama dari pada dengan emosi itu diekspresikan secara lebih kuat.

  • Emosi Mempengaruhi Penyesuaian Pribadi Dan Sosial Anak.

Kepribadian dan sikap sosial anak tidak terlepas dari struktur emosi yang terbentuk di dalam diri mereka. Berikut adalah beberapa bentuk emosi yang menjadi cikal-bakal pembentukan kepribadian dan sikap sosial anak [19].

  1. Emosi menambah rasa nikmat bagi pengalaman sehari-hari.
  2. Emosi menyiap kan tubuh untuk melakukan tindakan.
  3. Ketegangan emosi mengganggu keterampilan motorik.
  4. Emosi merupakan suatu bentuk komunikasi.
  5. Emosi mengganggu aktivitas mental.
  6. Emosi merupakan sumber penilaian diri dan sosial.
  7. Emosi mewarnai pandangan anak terhadap kehidupan.
  8. Emosi mempengaruhi interaksi sosial.
  9. Emosi memperlihatkan kesanya pada ekspresi wajah.
  10. Emosi mempengaruhu suasana psikologis.
  11. Reaksi emosional apabila di ulang-ulang akan berkembang menjadi kebiasaan.         
  •  Kondisi Yang Mempengaruhi Perkembangan Emosi

          Emosional  itu mungkin akan muncul dikemudian hari , dengan adanya pematangan dan belajar berjalin erat satu sama lain dalam mempengaruhi perkembangan  emosi sehingga  pada saat nya akan sulit untuk menentukan dampak relatifnya, bukti tentang peran yang  dimainkan faktor belajar dalam perkembangan emosi disajikan dibawah ini:

  1. Peran pematang perkembangan ialah perkembangan  intelektual menghasilkan kemampuan untuk memahami makna yang sebelumnya tidak dimengerti , memperhatikan suatu ransangan dalam jangka waktu yang lebih lama  dan memutuskan ketegangan emosi pada suatu obyek.
  2. Peran belajar  ialah  metode belajar  apa saja yang ada bagaimana  metode tersebut menunjang perkembangan  emosi anak-anak.

        Kepentingan yang relatif  dari faktor pematangan dan faktor belajar ialah  kedua-duanya mempengaruhi perkembangan emosi, tetapi faktor belajar lebih penting karna belajar merupakan faktor yang lebih dapat di kendalikan , sebalik nya terdapat berbagai cra untuk mngendalikan lingkungan  untuk menjalin pembinaan pola emosi yang di inginkan sebagai contoh nya telah ditemukan bahwa perubahan lingkungan  yang mendadak dapat mempengaruhi emosi anak. Anak yang sudah terbiasa dengan ibu yang memberi perhatian penuh  dapat mendendam kepada ibinya yang memberi perhatian penuh kepada adik nya  yang baru lahir  dan mungkin engungkap kan kemarahan nya kecemburuan nya dengan luapan emosi yang berulangkali dan kuat.hal ini dapat diperbaiki sehingga anak memperoleh  bagian perhatian yang adil dari ibunya.

  • Metode Belajar Yang Menunjang Perkembangan Emosi

Emosi yang dimiliki oleh seorang anak juga tidak terlepas dari stimulus yang ia peroleh. Pada saat belajar misalnya, metode belajar yang diterapkan oleh guru sangat berpengaruh pada perkembangan emosi siswa. Berikut adalah beberapa metode belajar yang dinilai efektif menunjang pembentukan emosi yang sehat untuk siswa [20].

  1. Belajar secara coba dan ralat
  2. Belajar dengan cara meniru
  3. Belajar dengan mempersakan diri
  4. Belajar melalui pengkondisian
  5. Pelatihan.
  • Ciri Khas Emosi Anak

       Karna pengaruh faktor pematangan dan faktor belajar terhadap perkembangan emosi, maka dipahami bahwa emosi anak kecil  sering kali sangat berbeda dari emosi anak yang lebih tua atau orang dewasa, perbedaan individu tidak dapat dielak kankarena adanya perbedaan taraf pematangan dan kesempatan belajar. Pola emosi yang umum ialah beberapa bulan setelah bayi lahir sampai anak-anak , muncul berbagai macam pola emosi pola yang paling umum , ransangan yang membangkitkan emosi, dan reaksi yang khas dari setiap pola akan diperbincangankan dalam bagian berikut yaitu rasa takut ketakutan tertentu secara khas dijumpai  pada usia tertentu dan karena nya di sebut juga  sebagai ketakutan yang khas untuk taraf usia tersebut  ransangan yang umumnya menimbulkan rasa takut kepada anak-anak  ialah suara yang keras, binatang kamar yang gelap, tempat yang tinggi, berada seorang diri , rasa sakit, orang yang tidak dikenal dan tempat yang tidak dikenal.

  • Faktor Yang Mempengaruhi Rasa Takut Pada Anak Sebagai Berikut:
  1. Intelegensi.
  2. Jenis kelamin.
  3. Status sosial ekonomi.
  4. Kondisi fisik.
  5. Hubungan sosial.
  6. Urutan kelahiran.
  7. Kepribadian.
  • Pola Emosi yang Berkaitan dengan Rasa Takut [21].
    1. Rasa malu, Bentuk ketakutan yang ditandai oleh penarikan diri dari hubungan dengan orang lain yang tidak di kenal  atau tidak sering dijumpai.
    1. Rasa canggung, Reaksi takut terhadap manusia bukan pada obyek atau situasi, rasa canggung berbeda dengan rasa malu dalam hal bahwa kecanggunan  tidak disebabkan oleh adanya orang  yang tidak dikenal atau orang yang sudah dikenal  tetapi lebih disebabkan oleh keraguan-keraguan tentang penilaian orang lain  terhadap perilaku atau diri sendiri.
    1. Rasa khawatir, Ini biasanya dijelaskan sebagai khayalan ketakutan  atau gelisah tanpa alasan tidak seperti ketakutan yang nyata  rasa khawatir tidak langsung ditimbulkan oleh ransangan dalam lingkungan tetapi merupakan produk pikiran itu sendiri
    2. Rasa cemas, Keadaan mental yang tidak enak berkenaan dengan sakit yang mengancam atau yang dibayangkan . rasa cemas ditandaid engan kekhawatiran, ketidakenakaan, dan prarasa  yang tidak baik yang tidak dapat dihindari oleh seseorang , dan disertai pula dengan ketidak mampuan  menemukan pemecahan masalah yang dihadapinya
    3. Rasa marah, Ekspresi yang sering diungkapkan pada masa anak-anak jika dibandingkan dengan rasa takut. Ransangan yang menimbulkan kemarahan meliputi berbagai macam batasan  rintangan terhadap gerak yang diingin kan anak, baik rintanga itu datang dari orang lain maupun dari dirinya sendiri.
    4. Rasa cemburu, Reaksi normal terhadap kehilangan kasih sayang yang nyata, rasa cemburu timbul dari kemarahan yang menimbulkan sikap jengkel dan ditunjuk kan kepada orang lain. Ada beberapa macam tingkatan umur yaitu, rasa cemburu pada masa kanak-kanak, situasi sekolah,situasi dimana anak merasa diterlantarkan
    5. Duka cita, Trauma fisikis, sesuatu kesangsaraan emosional yang disebabkan oleh hilangnya sesuatu yang dicintai
    6. Keinigintahuan, Ransangan yang meninginkan anak-anak menjadi ingin tahu sangat banyak, anak-anak menaruh minat pada segala sesuatu yang ingin mereka ketahui tubuh mereka, kegiatan sehari-hari mereka dan lain nya yang menyangkut kegiatan sehari-hari
    7. Kegembiraan, keriangan, dan kesenangan, Emosi ini selalu disertai dengan senyuman dan tawa dan sesuatu relaksi tubuh sepenuhnya
    8. Kasih sayang, Reaksi emosional terhadap seseorang,binatang, atau benda, anak-anak cendrung paling suka  kepada orang atau obyek yang khusus.
  • Prilaku Kecemasan Masa Kanak-Kanak [22].
    1. perilaku ribut dan berlagak
    2. kejemuan
    3. tidak tentram
    4. penghindaran diri dari situamsi cemas yang mengancam
    5. reaksi umum
    6. perilaku yang tidk semestinya
    7. makan berlebihan
    8. penggunaan media masa secara berlebihan 
    9. penggunaan mekanisme pertabanan secara berlebihan.
  • Ciri Khas Penampilan Emosi Anak
    1. Emosi yang kuat  anak kecil bereaksi dengan intensitas nya yang sama, baik terhadap situasi yang meremehkan maupun yang serius
    2. Emosi sering kali tampak anak-anak sering kali memperlihatkan emosi mereka meningkat dan mereka menjumpai bahwa ledakan emosional seringkalimengakibatkan hukuman.
    3. Emosi bersifat sementara peralihan yang cepat pada anak-anak dari tertawa kemudia menagis, atau marah ke tersenyum, atau dari cemburu ke rasa kasih sayang, dewngan meningkat nya usia anak emosi ,erek menjadi lebih menetap.
    4. Reaksi mencerminka individualitas secara bertahap dengan ada nya pengaruh  faktor brlajar dan lingkungan, perilaku yang menyertai berbagai macam emosi semakin di individualisasikan.
    5. Emosi perubahan kekuatan dengan meningkat nya usia anak pada usia tertentu emosi yang sangat kuat berkurang kekuatan nya , sedang kan emosi lainnnya yang tadinya lemah berubah menjadi kuat.
    6. Emosi dapat diketahui melalui gejala prilaku anak-anak mungkin tidak memperlihatkan raksi emosional mereka secara langsung, tetapi mereka memperlihatkan nya secara tidak langsung melalui gelisahan , melamun, menangis, kesukaran bicara, dan tingkah yang gugup.
    7. Emosi yang dominan adalah dari emosi, salah satu atau beberapa diantaranya, menimbulkan pengaruh yang terkuat terhadap prilaku seseorang. Pengaruh emosi yang dominan mempengaruhi kepribadian anak dan kepribadiaan anak mempengaruhi penyesuaian yang pribadi dan sosial mereka emosi yang dominan akan menentukan tempramen atau suasana hati yang dirasakan anak. Tempramen bersifat menetap, tempramen mempengaruhi ciri khas penyesuaian anak kehidupan.
  • Kondisi Yang Ikut Mempengaruhi Emosi Dominan
    1. Kondisi kesehatan
    2. Suasana dirumah
    3. Cara mendidik anak
    4. Hubungan dengan para anggota keluarga
    5. Hubungan dengan teman sebaya
    6. Perlindungan yang berlebih-lebihan
    7. Aspirasi orang tua
    8. bimbingan
  • Keseimbangan Emosi                      

Pada keseimbangan emosi yang tidak menyenangkan dapat dilawan sampai pada batas tertentu dengan emosi yang menyenangkan dan sebaliknya.pentingnya keseimbangan emosi jika anak-anak mengalami terlalu banyak emosi yang tidak menyenangkan dan terlalu sedikit  emosi yang menyenangkan, pandangan mereka terhadap kehidupan akan menyimpang dan mereka akan mengembangkan nya “watak yang tidak menyenangkan” ekspperesi wajah mereka akan  menjadi murung, merengut atau pada pokoknya tidak menyenangkan, sebagai contoh dalam kemarahan jika anak-anak secara bertahap  menerima frustasi tatkala mereka masih muda , mereka tidak akan mengembangkan kebiasaan melawan terhadap setiap situasi yang membuat frustasi secra agresif setelah mereka masih besar.

  • Pengendalian Emosi

Konsep paling populer tentang pengendalian emosi (emotional control) menitik beratkan kepada penekanan reaksi yang tampak terhadap ransangan yang menimbulkan emosi menurut konsep ini seseorang yang telah bangkit kan kelemahan nya akan dilumpuhkan adalah emosi tersebut dan  dengan melakukan hal itu  ia akan menampakkan gambaran emosi yang tenang. Pengaruh pengendalian emosi terhadap prilaku, persiapan fisik dan mental untuk bertindak timbul dapat dapat dijelaskan dengan beberapa cara, cara yang bisa dilakukan  seseorang untuk beraksi sebagian besar bergantung  pada faktor yang memberikan kepuasan terbesar padanya, pada perilaku yang tidak menimbulkan  penolakan dari orang-orang yang berarti pada anak.

  1. Katarsis emosi ialah  apabila energi fisik yang dibina untuk persiapan bertindak tidak untuk dilepaskan keseimbangan tubuh akan terganggu,demikian pula halnya apabila keadaan mental yang disertai emosi tidak ditangani secara tepat menyenangkan sehingga penyesuaian pribadi dan sosial anak kurang baik, Akan tetapi bahwa kebutuhan emosi juga berlaku untuk jiwa belum diketahui sampai pergantian abad.
  2. Katarsis mental untuk mencapai katarsis mental anak-anak harus mengubah sikap terhadap situasi yang menimbulkan emosi mereka.
  3. Bantuan bagi katarsis emosi ialah sekalipun  anak sedemikian rupa sehingga mereka hanya dituntut sedikit saja untuk mengendalikan emosi  bantua bagi katarsis emosi sebagai berikut :
  4. Kegiatan menyibukkan diri sehari-hari baik dengan bermain maupun dengan bekerja.
  5. Pemahaman bahwa menyibukkan diridapat membantu kesehatan fisik dan emosi.
  6. Pengembangan rasa humor.
  7. Pengertian bahwa menangis tidak selalu merupakan yang kebayi-bayian.
  8. Hubungan emosional yang akrab penting tidak dengan salah seorang anggota keluarga.
  9. Seorang teman akrab  tempat anak dapat menceritakan kesulitan dan mengadu.
  10. Kesediaan untuk membincangkan  masalah dengan seseorang yang bersifat simpatik.
  11. Pengertian dari pihak lain terhadap sebab yang melatarbelakangi timbulnya emosi.
  • Bahaya Dalam Perkembangan Emosi

             Karna emosi memainkan  peran yang sedemikian penting dalam menentukan penyesuaian pribadi dan sosial yang dilakuakan anak, tidak hanya dalam masa kanak-kanak tetapi juga setelah mereka tumbuh remaja dan dewasa maka perkembangan mereka harus  sedemikian rupa sehingga memungkinkan penyesuaian yang baik, segala sesuatu yang menggangu perkembangan  emosi yang baik akan menghambat penyesuaian  yang dilakukan anakKeterlantaran emosional tidak berarti anak-anak terlantar dari semua pengalaman emosional anak-anak cukup mendapatkan pengalaman emosional yang menyenangkan, terutama keingintahuan, kegembiraan, kesenangan, dan kasih sayang. Dalam arti yang sempuit keterlantaran emosional ada hubungan nya dengan keterlantaran kasih sayang. Sebab keterlantaran kasih sayang banyak kondisi yang mempengaruhi keterlantaran kasih sayang , bayi atau anak kecil mungkin mengalami keterlantaran emosional karna di titipkan di panti asuhan  atau mungkin mereka terlantar dari sumber kasih sayang tetap karna kematian salah satu orang tua, sebaliknya keterlantara kasih sayang mungkin disebabkan oleh penolakan anak terhadap orang tua karna orang tua tidak memenuhi kebutuhan mereka. Dampak keterlantaran kasih sayang  secara keseluruhan menunjukkan bahwa keterlantaran kasih sayang pada usia dini dapat menghambat perkembangan fisik, mental, emosional, dan sosial anak.

  •  Kondisi Yang Menunjang Timbulnya Emosionalitas  Yang Meninggi
  1. kondisi fisik, ialah apabila keseimbangan tubuh terganggu karena kelelahan, kesehatan yng buruk atau perubahan yang berasal dari perkembangan maka anak akan mengalami empsionalitas yang meninggi.
    1. Kesehatan yang buruk, yang disebabkan oleh gizi buruk, gangguan fisik lainnya.
    2. Kondisi yang ,meransang seperti kaligata dank eksism.
    3. Perubahan kelenjar, terutama pada saat puber gangguan kelenjar mungkin juga disebabkan oleh stres emosional  yang kronis    
  2. kondisi psikologis, pengaruh psikologi yang penting antara lain tingkat aspirasi dan kecemasan.
    1. Perlengkapan intelektual yang buruk.
    2. Kegagalan mencapai tingkat inspirasi.
    3. Kecemasan setelah pengalaman emosional tertentu yang sangat kuat.
  3. Kondisi lingkunganketegangan yang terus menerus , jadwal yang ketat, dan terlalu banyak pengalaman menggelisahkan yang meransang anak secara berkelebihan.
    1. Ketegangan.
    2. Kekangan yang berlebihan.
    3. Sikap orangtua.
    4. Suasana otoriter di sekolah.
  • Dampak Dari Emosional Yang Meninggi

Dampak dari emosional yang meninggi ada beberapa bagian yaitu sebagai berikut:

  1. Keadaan emosional yang kuat sering atau menetap menggoncang kaseimbangan tubuh dan mencegah berfungsinya tubuh secara normal.
  2. Apabila keseimbangan tubuh terguncang emosi perilaku anak menjadi kujrang teratur dibandingkan dengan dalam keadaan normal, dan lebih menyerupai perilaku anak yang lebih muda.
  3. Goncangan keseimbangan tubuh tercermin pada efiensi mental yang menurun terutama dan segi ingatan, konsentrasi dan penalaran.
  4. Nilai sekolah juga tampak dipengaruhi oleh ketegangan emosional.
  5. Emosionalitas yang meninggi mempengaruhi penyesuaian anak secara langsung karena orang lain menilai anak atas dasar perilaku mereka.

Karena penyesuaian sosial berkaitan erat dengan konsep diri anak, emosionalitas yang meninggi menimbulkan dmpak yang tinggi menimbulkan dampakyang merugikan bagi perkembangan pribadi 


REFERENSI

[1] Elizabeth B. Hurlock, Child Development (sixth edition), jakarta : Erlangga, halaman 108-109

[2] Desmita, Psikologi Perkembangan, Bandung : PT Remaja Rosdakraya, halaman 127-129

[3]  Elizabeth B. Hurlock, Child Development (sixth edition), jakarta : Erlangga, halaman 176

[4]  Jakobson, R. Verbal comunication. Scientific American, 1972 halaman 73-80

[5]  Asher, S. R and S. L. Oden. Child Dren’s Failur to Communicate: Assessment of Comparison and egosentrism Explanation. Developmental Psykology, 1976, halaman 132-139

[6]  Nelson, N. W. Cpomprehention of Spoken Languange by normal Children as an Function of Speaking rate, sentece dificully, and listener age end sex. Child Developmen, 1976 halaman 299-303

[7]  Davis. A. J., and G. Lange. Parent child Comunication and development of Categorization styles in Preschool Chuldren. Child Development, 1972, halaman 624-629

[8] Ostwald. P> f., and P. Pelztman. The cry of the newborn. Scientific American, 1974, halaman 84-90

[9] Ainsworth, M. D. S., S. M. Bell, and D. J, Stayton. Individual Differences in the Development of some attachment behaviors. Merrilll-Palmer Quarterly, 1972, halaman 123-143

[10] Dodd. B. J.  Effect of Sosial and Vocal Stimulation on infant Babling. Developmental Psykology, 1971, halaman 80-83

[11] mcCall. R> B Smiling and Vocalization in Infact asa Indices of  Perceptual-cognitif processes. Merril Palmer Quarterly, 1972, halaman 341-347

[12] Jacobson, R. Verbal Comunication. Scientific American, 1972, halaman 73-80

[13] Kaplan, E,. And G. Kaplan. The Prelinguistic Child. In J. Eliot(ed.), Human Development and Cognitive Processes. New york: Holt, Rinehart and Winston, 1971, halaman 358-381

[14] Buck, R. Nonverbal Comunication Of Affect in Children. Journal of Personality and Social psycology, 1957, halaman 644-653

[15] Elizabeth B. Hurlock, Child Development (sixth edition), jakarta : Erlangga, halaman 184-185

[16] Bruck. M., and G. R. Tucker. Social Class differences in the acquisition of School Langunage. Merrilll-Palmer  Querterly, 1974, halaman 205-220

[17] Meyer. W. J., end sheene, the form and function of chldren’s question, journal of genetic psycology, 1973, halaman 285-296

[18] Elizabeth B. Hurlock, Child Development (sixth edition), jakarta : Erlangga, halaman 190

[19] Elizabeth B. Hurlock, Child Development (sixth edition), jakarta : Erlangga, halaman 211-112

[20] Elizabeth B. Hurlock, Child Development (sixth edition), jakarta : Erlangga, halaman 213-216

[21] Elizabeth B. Hurlock, Child Development (sixth edition), jakarta : Erlangga, halaman 218-224

[2] Desmita, Psikologi Perkembangan, Bandung : PT Remaja Rosdakraya, halaman 127-129[3]  Elizabeth B. Hurlock, Child Development (sixth edition), jakarta : Erlangga, halaman 176[4]  Jakobson, R. Verbal comunication. Scientific American, 1972 halaman 73-80[5]  Asher, S. R and S. L. Oden. Child Dren’s Failur to Communicate: Assessment of Comparison and egosentrism Explanation. Developmental Psykology, 1976, halaman 132-139[6]  Nelson, N. W. Cpomprehention of Spoken Languange by normal Children as an Function of Speaking rate, sentece dificully, and listener age end sex. Child Developmen, 1976 halaman 299-303[7]  Davis. A. J., and G. Lange. Parent child Comunication and development of Categorization styles in Preschool Chuldren. Child Development, 1972, halaman 624-629[8] Ostwald. P> f., and P. Pelztman. The cry of the newborn. Scientific American, 1974, halaman 84-90[9] Ainsworth, M. D. S., S. M. Bell, and D. J, Stayton. Individual Differences in the Development of some attachment behaviors. Merrilll-Palmer Quarterly, 1972, halaman 123-143[10] Dodd. B. J.  Effect of Sosial and Vocal Stimulation on infant Babling. Developmental Psykology, 1971, halaman 80-83[11] mcCall. R> B Smiling and Vocalization in Infact asa Indices of  Perceptual-cognitif processes. Merril Palmer Quarterly, 1972, halaman 341-347[12] Jacobson, R. Verbal Comunication. Scientific American, 1972, halaman 73-80[13] Kaplan, E,. And G. Kaplan. The Prelinguistic Child. In J. Eliot(ed.), Human Development and Cognitive Processes. New york: Holt, Rinehart and Winston, 1971, halaman 358-381[14] Buck, R. Nonverbal Comunication Of Affect in Children. Journal of Personality and Social psycology, 1957, halaman 644-653[15] Elizabeth B. Hurlock, Child Development (sixth edition), jakarta : Erlangga, halaman 184-185[16] Bruck. M., and G. R. Tucker. Social Class differences in the acquisition of School Langunage. Merrilll-Palmer  Querterly, 1974, halaman 205-220[17] Meyer. W. J., end sheene, the form and function of chldren’s question, journal of genetic psycology, 1973, halaman 285-296[18] Elizabeth B. Hurlock, Child Development (sixth edition), jakarta : Erlangga, halaman 190[19] Elizabeth B. Hurlock, Child Development (sixth edition), jakarta : Erlangga, halaman 211-112[20] Elizabeth B. Hurlock, Child Development (sixth edition), jakarta : Erlangga, halaman 213-216[21] Elizabeth B. Hurlock, Child Development (sixth edition), jakarta : Erlangga, halaman 218-224

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *