A Way to Share Ideas 

Cookbook dan Inquiry Laboratory


Laboratorium pada dasarnya merupakan tempat dimana siswa dapat melakukan pembelajaran secara aktif. Kegiatan di laboratorium  memfokuskan pada pengetahuan prosedural/psikomotor dimana siswa diuapayakan menemukan/memperoleh pengetahuan secara proses saintifik. Kegiatan untuk menemukan pengetahuan dimulai dari mengamati, menanya, mencoba, menyimpulkan hingga mengkomunikasikan.


A.     Cookbook Laboratory

  • Pengertian

Cookbook Laboratory merupakan salah satu bentuk/disain praktikum yang dikembangkan di lembaga lembaga pendidikan. Hal ini karena dalam melaksanakan praktikum jenis ini seorang asisten laboratorium daat dengan mudah memimpin dan mengawasi praktikum yang sedang dilaksanakan, dan juga praktikum jenis ini sangat mudah untuk dilaksanakan dalam skala besar/dengan jumlah peserta didik yang banyak (Lo, 2012). Cookbook sendiri berasal dari pengistilahan buku resep yang biasa dipakai untuk panduan memasak, hal ini kemudian diadopsi menjadi salah satu bentuk praktikum yang memang praktikan diarahkan untuk melaksanakan praktikum sesuai dengan petunjuk yang telah disediakan. Dan pada kenyataannya-pun praktikan hanya melakukan apa yang telah dituliskan, praktikan harus menyelesaikan eksperimen dalam waktu yang telah ditetapkan dan harus memperoleh hasil yang diharapkan (sesuai yang tertulis di buku petunjuk praktikum) (Kirschner & Meester, 1988)2.      

  • Karakteristik

Kirschner dalam The Laboratory in higher science education : Problems, premises, and objective mejelaskan bebrapa karakteristik dari praktikum model cookbook sebagai berikut:

    1. Bersifat Verifikasi
    2. Langkah kegiatan terstruktur
    3. Bersifat study perbandingan
    4. Pola kegiatan praktikuk berupa pemberian konsep (Giving a concept), memverifikasi kebenaran (verification).
  • Kelebihan

Hao-Chang Lo (2012) menejelaskan bahwa ada beberapa keuntungan dari praktikum model cookbook yaitu:

    1. Langkah kegiatan terstruktur sehingga daat disimpulkan bahwa praktikan sudah mengetahui apa yang harus dilakukan terlebih dahulu
    2. Mudah dilakukan dan diawasi saat praktikan berjumla besar
    3. Lebih hemat dari segi bahan yang digunakan karena praktikan cukup mengambil jumlah yang dibutuhkan pada percobaan
    4. Lebih efektif karena tidak memkan waktu yang banyak.
  • Kelemahan

Pada pelakasanaannya, model praktikukum cookbook laboratory juga terdapat beberapa kelamahan diantaranya yang disampaikan oleh Christian Bertsch (2014):

    1. Banyak ditemukan pada kelas kelas berbasis sains seperti fisika yang mana praktikum yang dijalankan hanya membuktikan persamaan dan konsep sederhana yang berasal dari buku.
    2. Berdasarkan langah langkah percobaan yang dihadirkan, praktikum dengan model ini cendrung dengan level intelegensi yang minim artinya praktikan tidak dibiarkan untuk berfikir tentang apa yang mereka lakukan sehingga terkesan seperti robot.
    3. Kebanyakan peserta didik akan berbicara tentang variavel variabel yang konstan sehingga mereka tidak akan menemukan kesalahan kesalahan dalam prosedur dan hasil yang terlalu jauh.Kirschner & Meester menambahkan bahwa praktikum ini akan menghilangkan eksistensi dari sikap ilmiah praktikan karena pengamatan yang mereka lakukan dikendalikan oleh konsep yang awalnya sudah diberikan. (Kirschner & Meester, 1988)5.      
  • Hasil Penelitian

Banyak penelitian yang berkaitan dengan cookbook laboratory. Akan tetapi sebagian besar dari penelitian yang dilakukan adalah bagaimana merubah paradigma dan penerapan cookbook lab menjadi inquiry lab. Berikut ini adalah beberapa hasil penelitian yang berkaitan dengan  eksperimen cookbook.

  1. Christopher M. Longo pada tahun 2011 dalam jurnal berjudul Design Inquiry-Oriented Science Lab Activities. Penelitian yang dilakukan oleh Christopher M Longo adalah dengan membandingkan penerapan model pembelajaran kelas dengan eksperiment cookbook dan inquiry. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah kelas yang dilakukan dengan treatmen inquiry memperoleh pemahaman yang lebih nyata dibandingkan dengan kelas yang dilakukan eksperimen cookbook laboratory design. Akan tetapi tetap perlu diperhatikan pernyataan Christoper bahwa model cookbook lab lebih efektif dan lebih mudah dalam pengelolaan/pelaksanaanya.
  2. Sara, Kloser, Fukami, & Shavelson pada tahun 2012 dengan judul penelitian Undergraduate Biology Lab Courses : Comparing The Impact Of Traditionally Based Cookbook And Authentic Researc Based Courses On Student Lab Experiment. Sara dkk melakukan penelitian menegenai perbedaan dampak pengetahuan yang diperoleh dari model laboratorium cookbook dengan Authentic Research. Dari hasil penelitiannya mereka menyimpulkan bahwa baik itu model cookbook ataupun authentic research seharusnya dilakukan secara lebih sempurna dimana harus tetap disediakan ruang bagi siswa untuk menemukan sampel yang banyak dan menggali monsep yang lebih dalam lagi.
  3. Seidler, Mortensen, Ball, & Remesnic AJ pada tahun 2015 dengan judul penelitian A Modern Laboratory XAFS Cookbook. Dalam penelitiannya Seidler mengembangkan kualitas eksperimen XAFS dan XES di banyak tingkatan energi. Penelitian ini pun dilakukan dengan membuatkan bentuk visual dari eksperimen spektrometer yang dalam pelaksanaannya disediakan buku/petunjuk praktikum layaknya praktikum cookbook laborattory. Hasilnya, penelitian ini telah berhasil membuat praktikum tema spectrometer lebih ekonomis tanpa melupakan teknik teknik dan identitas keilmiahannya.

 

B.     Inquiry Laboratory

  • Pengertian

Pembelajaran Inkuiri merupakan pembelajaran yang mampu menempatkan peserta didik menjadi seorang ilmuwan yang berupaya untuk memahami alam sebagai aplikasi sains dan memberikan penjelasan akan apa yang mereka amati. Dalam inkuiri siswa diajak untuk berpikir lebih sehingga dapat membangun sikap produktif, analitis dan kritis (Rakhmawan, Setiabudi, & Mudzakkir, JPPI, 2015).

  • Karakteristik

Karakteristik dari suatu model praktikum juga dapat diidentifikasi dari sintak model itu sendiri. Menurut Karyatin, model inquiry memiliki sintak kegiatan sebagai berikut:

    1. Mendefinisikan masalah (merumuskan masalah) dan pengajuan hipotesis
    2. Pada tahap ini siswa diberikan ilustrasi/kejadian dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan tujuan pembelajaran dan materi yang dibahas. Guru memancing dan memberikan arahan sehingga siswa dapat menemukan masalah dan mencoba mencari jawaban sementara (hipotesis) berdasarkan pengetahuan awal yang dimilikinya
    3. Merencanakan kegiatan/percobaan
    4. Pada tahap ini siswa berpikir secara sistematis tentang langkah-langkah kegiatan/percobaan yang akan dilakukan, memilih alat dan bahan kegiatan/percobaan dengan benar, menentukan ketepatan waktu untuk menyelesaikan setiap langkah kegiatan/percobaan sehingga dapat mengumpulkan data hasil kegiatan/percobaan dengan cermat, cepat, dan tepat waktu.
    5. Melakukan kegiatan/percobaan
    6. Tahap ini merupakan kelanjutan dari tindakan yang harus dilakukan setelah menyusun langkah kegiatan. Secara singkat dapat disimpulkan tahapan/sintaks dari kegiatan praktikum model inquiry yaitu dari merumuskan masalah, mengajukan hipotesis, merencanakan kegiatan/percobaan, melakukan kegiatan/percobaan, mengumpulkan, menganalisis, serta menyimpulkan hasil kegiatan/percobaan, sehingga dapat meningkatkan kemampuan keterampilan proses dan hasil belajar kognitif IPA (Karyatin, 2013).
    7. Menambahkan Susilawati dkk bahwa dalam kegiatan model pembelajaran inkuiri, siswa dilatih untuk melakukan suatu percobaan, antara lain merumuskan masalah, mengajukan dan menguji hipotesis, menentukan variabel, merancang dan merakit instrument, mengumpulkan, mengolah dan menafsirkan data, menarik kesimpulan serta mengkomunikasikan hasil percobaan secara lisan dan tertulis (Susilawati, Susilawati, & Sridana, 2015)
  • Jenis/Tingkatan

Carl J. Wenning (2005) dalam jurnalnya “Levels of Inquiry: Using inquiry spectrum learning sequences to teach science” memperkenalkan sebuah model pembelajaran berbasis inkuiri yang dikenal dengan model pembelajaran Hierarki of Inquiry atau level kegiatan inkuiri. Wenning mengelompokkan kesulitan menerapkan inkuiri dalam lima level, antara lain:

    1. discover learning
    2. interactive demonstration
    3. inquiry lesson
    4. inquiry lab, dan
    5. hypothetical inquiry
  • Kelebihan

Didalam jurnal (Karyatin, 2013) dijelaskan bahwa terdapat beebrapa keuntungan/kelebihan dari penggunaan eksperimen model inkuiri diantaranya adalah:

    1. Siswa dapat terlibat secara langsung dalam kegiatan laboratorium tersebut
    2. berpotensi untuk membangun konsep belajar siswa
    3. Meningkatkan pemahaman konseptual, dan
    4. Meningkatkan pemahaman tentang sifat Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).

Chita dkk pada tahun 2015 juga menambahkan kelebihan dari inkuiri lab diantaranya:

    1. Siswa lebih aktif mencari informasi sendiri melalui observasi, eksperimen aktif berdiskusi dan bertukar pendapat untuk membuktikan teori/fakta tentang materi yang dipelajari.
    2. Siswa di tuntut untuk bisa membuat prediksi dari sebuh persoalan fisika sehari-hari serta mengobservasinya.
    3. Menumbuhkan rasa keingintahuan yang lebih besar pada diri siswa sehingga siswa tertarik untuk melakukan eksperimen
    4. Siswa akan lebih percaya pada suatu kebenaran teori/fakta dari pada hanya diperoleh dari membaca saja.
  • Kekurangan

Menurut Chika dkk tahun 2015 terdapat ebebrapa kekurangan dari model inquiry laboratory diantaranya:

    1. Kemampuan siswa dalam presentasi hasil diskusi relatif masih kurang baik karena ragu dan belum terbiasa mengungkapkan pendapatnya
    2. Siswa belum sepenuhnya optimal karena masih ada siswa yang terlihat kurang aktif dalam eksperimen dan
    3. Pada pelaksanaannya memerlukan waktu yang lebih lama.
  • Hasil riset

Riset tentang penerapan dan pengembangan dari model praktikum inquiry ini telah dilakukan oleh banyak peneliti diantaranya:

    1. Sutanto, Suciati, & Nurmiyati, pada tahun 2015 yang melakukan melakukan penelitian dengan judul “Penerapan Bounded Inquiry Laboratory Untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Sains Peserta Didik Kelas XI Mia 2 Sman 1 Sukaharjo”. Hasil penelitian yang mereka lakukan memperoleh hasil bahwa untuk menumbuhkan sikap inqury, maka model pembelajaran yang berpotensi untuk menyelesaikan permasalahan KPS yang rendah adalah model pembelajaran Bounded Inquiry Laboratory (BIL).
    2. Christopher M. Longo pada tahun 2011 dalam jurnal berjudulDesign Inquiry-Oriented Science Lab Activities. Penelitian yang dilakukan oleh Christopher M Longo adalah dengan membandingkan penerapan model pembelajaran kelas dengan eksperiment cookbook dan inquiry. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah kelas yang dilakukan dengan treatmen inquiry memperoleh pemahaman yang lebih nyata dibandingkan dengan kelas yang dilakukan eksperimen cookbook laboratory design.
    3. Chita, Subiki, & Sudarti pada tahun 2015 yang menerapkan model inkuiri melalui kegiatan outbon. Hasil penelitian Chita dkk dimuat dalam jurnal yang berjudul Pengaruh Model Inkuiri Disertai Metode Outbond Terhadap Hasil belajar Fisika Siswa Kelas X MA Al Hidayah Jember. Berdasarkan hasil penelitiannya, model pembelajaran inkuiri disertai metode outbond ini diharapkan mampu meberi pengaruh  yang positif pada hasil belajar  fisika siswa kelas X MA-Al hidayah , karena model ini ditekankan pada aktivitas siswa menemukan konsep fisika. Dan penggunaan metode outbond  sebagai variasi untuk menyiasati waktu  pelaksanaan pembelajaran  yang relative panjang.dengan adanya kegiatan outbond ini siswa akan lebih bersemangat dan kompetitif dalam pembelajaran, serta dapat menumbuhkan rasa kerja sama dan kekompakan karena dilakukan secara berkelompok.
    4. Rakhmawan, Setiabudi, & Mudzakir pada tahun 2015 didalam jurnal yang berjudul Perancangan Pembelajaran Literasi Sains Berbasis Inkuiri Pada Kegiatan Laboratorium. Penelitia yang dilakukan Rakhmawan dkk ini berkaitan dengan peningkatan kemampuan literasi sains siswa. Metode yang digunakan adalah dengan membandingkan dua kelas yang diberi perlakuan pembelajaran berbeda yang kemudian pengujian dilakukan di laboratorium.  Hasil yang diperoleh adalah bahwa peningkatan literasi sains siswa dengan pembelajaran literasi sains berbasis inkuiri lebih baik dibandingkan hanya menggunakan pendekatan inkuiri saja.
  • Perbedaan cookbook laboratory dengan inquiry laboratory

Carl Wenning (2005) dalam jurnal yang berjudul Levels of Inquiry : Hierarchies of Pedagogical Practices and Inquiry Processes menjelaskan bahwa terdapat  5 perbedaan mendasar dari cookbook lab dan inquiry lab yaitu :

Cookbook Inquiry
Menghasilkan tingkat kecerdasan yang minimal Menghasilkan tingkat kecerdasan yang tinggi karena dimulai dari bertanya
Terfokus untuk memverivikasi konsep Terfokus pada observasi dan membangun konsep
Siswa berasumsi bahwa setiap eksperimen yang dilakukan menghasilkan variabel yang konstan Mempromosikan siswa untuk memiliki pemahaman nyata tentang proses saintifis
Tidak memberikan celah kepada siswa untuk salah Memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar dari kesalahan
Tidak mengembangkan pada pemahaman konseptual proporsional dan prosedural Mempromosikan siswa kepada pemahaman yang konseptual, proporsional dan prosedural

Referensi

  • Bertsch, C., Kapelari, S., & Unterbruner, U. (2014). From cookbook experiment to inquiry based primary science : influence of inquiry based lesson on interest and conceptual understanding. Inquiry in Primary Science Education (IPSE), 1(1), 20-31.
  • Chita, R. Y., Subiki, & Sudarti. (2015). Pengaruh Model Inkuiri Disertai Metode Outbond Terhadap Hasil belajar Fisika Siswa Kelas X MA Al Hidayah Jember. Artikel Ilmiah Mahasiswa, 2(1), 1-6.
  • Karyatin. (2013, Juni). Penerapan Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Berbasis Laboratorium untuk meningkatkan keterampilan Proses dan Hasil Belajar IPA Siswa kelas VIII-4 di SMPN 1 Probolinggo. Jurnal Pendidikan Sains, 1(2), 178-186.
  • Kirschner, P. A., & Meester, M. A. (1988). The Laboratory in higher science education : Problems, premises, and objective. Journal of Higher Education, 17, 81-89.Lo, H.-C. (2012, February 29).
  • ____________,—-, Design of Online Report Writing Based on Constructive and Cooperative. Educational Technology & Society, 16(1), 380-391. doi:ISSN 1436-4522 (online) – 1176-3647 (print)
  • Longo, C. M. (2011, September). Design Inquiry-Oriented Science Lab Activities. Association for Middle Level Education, 43(1), 6-15.
  • Rakhmawan, A., Setiabudi, A., & Mudzakkir, A. (2015). Perancangan pembelajaran literasi sains berbasis inkuiri. Jurnal Penelitian dan Pembelajaran IPA , 1(1), 143-152. ISSN 2477-2038
  • Sara, E., Kloser, J. M., Fukami, T., & Shavelson, R. (2012). Undergraduate Biology Lab Courses : Comparing tje impact of traditionally based cookbook and authentic researc based courses on student lab experiment. Journal of College Science Teaching, 4(4), 36-45.
  • Seidler, G., Mortensen, D., Ball, N., & Remesnic AJ. (2015). A Modern Laboratory XAFS Cookbook. XAFS 16 Proceedings. German: Khalsure Germany.
  • Susilawati, Susilawati, & Sridana, N. (2015). Pengaruh Model Pembelajaran Inkuiri terbimbing Terhadap Keterampilan Proses Siswa. BIOTA : Jurnal Tadris IPA Biologi FITK IAIN Mataram, VIII(1), 27-36.
  • Sutanto, A. V., Suciati, & Nurmiyati. (2015). Penerapan bounded inquiry laboratory untuk meningkatkan keterampilan proses sains peserta didik kelas XI MIA 2 SMAN 1 Sukaherjo. BIO-PEDAGOGI, 4(2), 5-9. ISSN 2252-6897
  • Wenning, C. C. (2005, February). Levels of Inquiry : Hierarchies of Pedagogical Practices and Inquiry Processes. Journal Physics Teacher and Education Online, 2(3), 3-12.

          

Have any Question or Comment?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *